Produk baru

Blog Search

Recent Articles

Berita DigiWare

Cara Mudah Membaca Komponen SMD

Komponen Surface Mounting Devices atau yang biasa dikenal dengan komponen SMD merupakan komponen elektronika modern yang diproduksi menggunakan metode Surface Mounting Technology (SMT). Komponen SMD pertama kali dikembangkan pada tahun 1960-an dan mulai digunakan secara massal sejak tahun 1980-an hingga sekarang. Tujuan awal pengembangan komponen SMD yaitu untuk menggantikan teknologi through-hole yang dianggap boros tempat dan kurang efisien. Dengan hadirnya teknologi SMT, produsen dapat memangkas ukuran komponen SMD berkali-kali lipat lebih kecil dibanding komponen through-hole, namun dengan performa yang sama layaknya komponen through-hole.

Gambar 1.0 Komponen SMD

Komponen - komponen elektronika yang mengadopsi tipe mounting SMD umumnya berupa resistor, kapasitor, induktor, IC, transistor, LED, dan beberapa komponen elektronika lainnya. Untuk menginformasikan nilai komponen SMD, produsen menggunakan kode - kode khusus yang biasanya dicetak pada permukaan atas komponen.

Apakah arti dari kode - kode tersebut? Dan bagaimana cara membacanya? Mari kita bahas satu per satu.

Cara Membaca Komponen SMD

1. Resistor

Secara garis besar, pengkodean resistor SMD dibagi menjadi 3 kategori, sistem tiga digit, sistem empat digit, serta sistem EIA-96. Berikut penjelasan dari masing-masing sistem pengkodean tersebut.

  • 1.1 Sistem Tiga Digit

    Gambar 1.1 Sistem Pengkodean Tiga Digit

    Pada sistem ini terdapat 3 digit angka yang berfungsi untuk mendeklarasikan nilai komponen SMD. Angka pertama dan kedua merupakan bilangan numerik yang menunjukan nilai resistansi sedangkan angka ketiga berfungsi sebagai faktor pengali perpangkatan dari bilangan 10. Berikut ini adalah beberapa contoh pembacaan nilai resistansi dari sistem pengkodean 3 digit.

    Contoh:

    1. 101 === 10 Ω x 101 = 100 Ω
    2. 203 === 20 Ω x 103 = 20.000 Ω / 20 KΩ
    3. 120 === 12 Ω x 100 = 12 Ω
    4. 472 === 47 Ω x 102 = 4.700 Ω / 47 KΩ
    5. 335 === 33 Ω x 105 = 3.300.000 Ω / 3.3 MΩ

    Untuk nilai resistansi yang lebih kecil dari 10 Ω biasanya ditulis dengan menambahkan huruf “R”. Huruf “R” mengindikasikan letak poin desimal pada nilai resistansi. Misalnya suatu resistor memiliki kode 4R7, itu berarti resistor ini memiliki nilai resistansi sebesar 4.7 Ω, reistor memiliki kode R05, berarti resistor memiliki nilai resistansi 0.05 Ω, dan seterusnya.

  • 1.2 Sistem Empat Digit

    Gambar 1.2 Sistem Pengkodean Empat Digit

    Sistem ini memiliki mekanisme penghitungan yang sama persis dengan sistem tiga digit, bedanya hanya terletak pada jumlah digit di depan faktor pengali. Berikut ini contoh pembacaan nilai resistansi dengan sistem pengkodean empat digit.

    Contoh:

    1. 1002 === 100 Ω x 102 = 10.000 Ω / 10 KΩ
    2. 2700 === 270 Ω x 100 = 270 Ω
    3. 1473 === 147 Ω x 103 = 147.000 Ω / 147 KΩ
    4. 2204 === 220 Ω x 104 = 2.200.000 Ω / 2.2 MΩ
    5. 3201 === 320 Ω x 101 = 3.200 Ω / 3.2 KΩ

    Sama halnya dengan sistem pengkodean tiga digit, untuk resistor dengan nilai resistansi kecil biasanya disisipi huruf “R”. Misalnya sebuah resistor memiliki kode 3R70, berarti resistor tersebut memiliki nilai resistansi sebesar 3.70 Ω, 0R20 berarti 0.20 Ω, 6R01 berarti 6.01 Ω, dan seterusnya.

  • 1.3 Sistem EIA-96

    Sistem pengkodean EIA-96 terdiri dari tiga digit kombinasi huruf dan angka. Dua digit angka di depan menunjukkan nilai resistansi sedangkan sebuah huruf di belakang menunjukkan faktor pengali. Pengkodean Jenis ini khusus digunakan untuk menandai resistor dengan nilai toleransi 1%. Berikut cara membacanya.

    KodeNilaiKodeNilaiKodeNilai
    01100Ω33215Ω65464Ω
    02102Ω34221Ω66475Ω
    03105Ω35226Ω67487Ω
    04107Ω36232Ω68499Ω
    05110Ω37237Ω69511Ω
    06113Ω38243Ω70523Ω
    07115Ω39249Ω71536Ω
    08118Ω40255Ω72549Ω
    09121Ω41261Ω73562Ω
    10124Ω42267Ω74576Ω
    11127Ω43274Ω75590Ω
    12130Ω44280Ω76604Ω
    13133Ω45287Ω77619Ω
    14137Ω46294Ω78634Ω
    15140Ω47301Ω79649Ω
    16143Ω48309Ω80665Ω
    17147Ω49316Ω81681Ω
    18150Ω50324Ω82698Ω
    19154Ω51332Ω83715Ω
    20158Ω52340Ω84732Ω
    21162Ω53348Ω85750Ω
    22165Ω54357Ω86768Ω
    23169Ω55365Ω87787Ω
    24174Ω56374Ω88806Ω
    25178Ω57383Ω89825Ω
    26182Ω58392Ω90845Ω
    27187Ω59402Ω91866Ω
    28191Ω60412Ω92887Ω
    29196Ω61422Ω93909Ω
    30200Ω62432Ω94931Ω
    31205Ω53442Ω95953Ω
    32210Ω64453Ω96976Ω

    Tabel 1 Tabel Nilai Resistansi EIA-96

    KodeFaktor PengaliKodeFaktor Pengali
    Z0.001C100
    Y/R0.01D10.00
    X/S0.1E10.000
    A1F100.000
    B/H10  

    Tabel 2 Tabel Faktor Pengali EIA-96

    Contoh:

    1. 09A === 121 Ω x 1 = 121 Ω ± 1%
    2. 78C === 634 Ω x 100 = 63.400 Ω / 63.4 KΩ ± 1%
    3. 40Y === 255 Ω x 0.01 = 2.55 Ω ± 1%
    4. 17A === 147 Ω x 1 = 147 Ω ± 1%
    5. 30Z === 200 Ω x 0.001 = 0.2 Ω ± 1%

2. Kapasitor Keramik

Gambar 2.0 Sistem Pengkodean Empat Digit

Sebagian besar kapasitor keramik SMD yang beredar di pasaran umumnya tidak dilengkapi kode tercetak untuk menandakan nilai kapasitansinya. Namun terkadang ada beberapa produsen yang menyertakan kode tersebut pada permukaan atas komponen. Jika Anda menemukan kode tersebut, berikut cara membacanya.

KodeNilai (pF)KodeNilai (pF)KodeNilai (pF)
A1.0M3.0Y8.2
B1.1N3.3Z9.1
C1.2P3.6a2.5
D1.3Q3.9b3.5
E1.5R4.3d4.0
F1.6S4.7e4.5
G1.8T5.1f5.0
H2.0U5.6m6.0
J2.2V6.2n7.0
K2.4W6.8t8.0
L2.7X7.5y9.0

Tabel 3 Kode Nilai Kapasitansi Kapasitor SMD

Contoh:

  1. E4 === 1.5 pF x 104 = 15.000 pF / 15 nF
  2. S2 === 4.7 pF x 102 = 470 pF
  3. R5 === 4.3 pF x 105 = 430.000 pF / 430 nF
  4. KG3 === 1.8 pF x 103 = 1.800 pF / 1.8 nF (diproduksi oleh pabrik berinisial “K”)
  5. AT1 === 5.1 pF x 101 = 51 pF (diproduksi oleh pabrik berinisial “A”)

3. Kapasitor Elektrolit

Gambar 3.0 Pengkodean Kapasitor Elektrolit

Secara umum nilai kapasitansi dari suatu kapasitor elektrolit dicetak dengan menggunakan kombinasi satu digit huruf dan tiga digit angka. Berikut cara membaca nilai kapasitansi dari kapasitor SMD.

KodeTeganganKodeTegangan
e2.5 VD20 V
G4 VE25 V
J6.3 VV35V
A10 VH50 V
C16 V  

Tabel 4 Tabel Kode Tegangan Kapasitor Elektrolit

Contoh:

  1. E572 === 57 pF x 102 = 5.700 pF / 5.7 nF @ 25 V
  2. C475 === 47 pF x 105 = 4.700.000 pF / 4.7 µF @ 16 V
  3. H103 === 10 pF x 103 = 10.000 pF / 10 nF @ 50 V
  4. A204 === 20 pF x 104 = 200.000 pF / 200 nF
  5. D211 === 21 pF x 101 = 210 pF

4. Induktor

Untuk menandakan nilai induktansi, produsen biasanya mencetak tiga digit kode khusus pada permukaan atas induktor SMD. Berikut ini cara membaca kode pada induktor SMD.

Gambar 4.0 Pengkodean Induktor SMD

Contoh:

  1. 101 ===10 µH x 101 = 100 µH
  2. 465 === 46 µH x 105 = 4.600.000 µH / 4.6 H
  3. 273 === 27 µH x 106 = 27.000 µH / 27 mH
  4. 3R3 === 3.3 µH (huruf “R” menunjukkan letak poin desimal)
  5. 4R7 === 4.7 µH (huruf “R” menunjukkan letak poin desimal)

Nah.. Bagaimana teman-teman? Membaca nilai komponen SMD ternyata bukan suatu hal yang sulit bukan??

Jangan bosan-bosan belajar elektronika ya.. ^_^

Sampai jumpa di artikel berikutnya..