Testimonials ( 4 ) RSS Feed
(5,0/5)

Review By Dika S,
Dika S
Digiware often provides rare items (components) with reasonable price. They also respond the order q ...
07-05-2018
Verified Purchase
Review By Reyhan Issatyadi,
Reyhan Issatyadi
Barang cukup lengkap (beberapa barang hanya ada di sini misalnya mini PC LattePanda), pelayanan cepa ...
07-05-2018
Verified Purchase
Review By Nyoman Bogi,
Nyoman Bogi
Saya sudah 18 tahun jadi dosen mikroprosesor dan peneliti di bidang IoT. Untuk alat peraga di kelas, ...
04-05-2018

Produk baru

Blog Search

Recent Articles

Berita DigiWare

Cara Mudah Membaca Komponen SMD

Komponen Surface Mounting Devices atau yang biasa dikenal dengan komponen SMD merupakan komponen elektronika modern yang diproduksi menggunakan metode Surface Mounting Technology (SMT). Komponen SMD pertama kali dikembangkan pada tahun 1960-an dan mulai digunakan secara massal sejak tahun 1980-an hingga sekarang. Tujuan awal pengembangan komponen SMD yaitu untuk menggantikan teknologi through-hole yang dianggap boros tempat dan kurang efisien. Dengan hadirnya teknologi SMT, produsen dapat memangkas ukuran komponen SMD berkali-kali lipat lebih kecil dibanding komponen through-hole, namun dengan performa yang sama layaknya komponen through-hole.

Gambar 1.0 Komponen SMD

Komponen - komponen elektronika yang mengadopsi tipe mounting SMD umumnya berupa resistor, kapasitor, induktor, IC, transistor, LED, dan beberapa komponen elektronika lainnya. Untuk menginformasikan nilai komponen SMD, produsen menggunakan kode - kode khusus yang biasanya dicetak pada permukaan atas komponen.

Apakah arti dari kode - kode tersebut? Dan bagaimana cara membacanya? Mari kita bahas satu per satu.

Cara Membaca Komponen SMD

1. Resistor

Secara garis besar, pengkodean resistor SMD dibagi menjadi 3 kategori, sistem tiga digit, sistem empat digit, serta sistem EIA-96. Berikut penjelasan dari masing-masing sistem pengkodean tersebut.

  • 1.1 Sistem Tiga Digit

    Gambar 1.1 Sistem Pengkodean Tiga Digit

    Pada sistem ini terdapat 3 digit angka yang berfungsi untuk mendeklarasikan nilai komponen SMD. Angka pertama dan kedua merupakan bilangan numerik yang menunjukan nilai resistansi sedangkan angka ketiga berfungsi sebagai faktor pengali perpangkatan dari bilangan 10. Berikut ini adalah beberapa contoh pembacaan nilai resistansi dari sistem pengkodean 3 digit.

    Contoh:

    1. 101 === 10 Ω x 101 = 100 Ω
    2. 203 === 20 Ω x 103 = 20.000 Ω / 20 KΩ
    3. 120 === 12 Ω x 100 = 12 Ω
    4. 472 === 47 Ω x 102 = 4.700 Ω / 47 KΩ
    5. 335 === 33 Ω x 105 = 3.300.000 Ω / 3.3 MΩ

    Untuk nilai resistansi yang lebih kecil dari 10 Ω biasanya ditulis dengan menambahkan huruf “R”. Huruf “R” mengindikasikan letak poin desimal pada nilai resistansi. Misalnya suatu resistor memiliki kode 4R7, itu berarti resistor ini memiliki nilai resistansi sebesar 4.7 Ω, reistor memiliki kode R05, berarti resistor memiliki nilai resistansi 0.05 Ω, dan seterusnya.

  • 1.2 Sistem Empat Digit

    Gambar 1.2 Sistem Pengkodean Empat Digit

    Sistem ini memiliki mekanisme penghitungan yang sama persis dengan sistem tiga digit, bedanya hanya terletak pada jumlah digit di depan faktor pengali. Berikut ini contoh pembacaan nilai resistansi dengan sistem pengkodean empat digit.

    Contoh:

    1. 1002 === 100 Ω x 102 = 10.000 Ω / 10 KΩ
    2. 2700 === 270 Ω x 100 = 270 Ω
    3. 1473 === 147 Ω x 103 = 147.000 Ω / 147 KΩ
    4. 2204 === 220 Ω x 104 = 2.200.000 Ω / 2.2 MΩ
    5. 3201 === 320 Ω x 101 = 3.200 Ω / 3.2 KΩ

    Sama halnya dengan sistem pengkodean tiga digit, untuk resistor dengan nilai resistansi kecil biasanya disisipi huruf “R”. Misalnya sebuah resistor memiliki kode 3R70, berarti resistor tersebut memiliki nilai resistansi sebesar 3.70 Ω, 0R20 berarti 0.20 Ω, 6R01 berarti 6.01 Ω, dan seterusnya.

  • 1.3 Sistem EIA-96

    Sistem pengkodean EIA-96 terdiri dari tiga digit kombinasi huruf dan angka. Dua digit angka di depan menunjukkan nilai resistansi sedangkan sebuah huruf di belakang menunjukkan faktor pengali. Pengkodean Jenis ini khusus digunakan untuk menandai resistor dengan nilai toleransi 1%. Berikut cara membacanya.

    KodeNilaiKodeNilaiKodeNilai
    01 100Ω 33 215Ω 65 464Ω
    02 102Ω 34 221Ω 66 475Ω
    03 105Ω 35 226Ω 67 487Ω
    04 107Ω 36 232Ω 68 499Ω
    05 110Ω 37 237Ω 69 511Ω
    06 113Ω 38 243Ω 70 523Ω
    07 115Ω 39 249Ω 71 536Ω
    08 118Ω 40 255Ω 72 549Ω
    09 121Ω 41 261Ω 73 562Ω
    10 124Ω 42 267Ω 74 576Ω
    11 127Ω 43 274Ω 75 590Ω
    12 130Ω 44 280Ω 76 604Ω
    13 133Ω 45 287Ω 77 619Ω
    14 137Ω 46 294Ω 78 634Ω
    15 140Ω 47 301Ω 79 649Ω
    16 143Ω 48 309Ω 80 665Ω
    17 147Ω 49 316Ω 81 681Ω
    18 150Ω 50 324Ω 82 698Ω
    19 154Ω 51 332Ω 83 715Ω
    20 158Ω 52 340Ω 84 732Ω
    21 162Ω 53 348Ω 85 750Ω
    22 165Ω 54 357Ω 86 768Ω
    23 169Ω 55 365Ω 87 787Ω
    24 174Ω 56 374Ω 88 806Ω
    25 178Ω 57 383Ω 89 825Ω
    26 182Ω 58 392Ω 90 845Ω
    27 187Ω 59 402Ω 91 866Ω
    28 191Ω 60 412Ω 92 887Ω
    29 196Ω 61 422Ω 93 909Ω
    30 200Ω 62 432Ω 94 931Ω
    31 205Ω 53 442Ω 95 953Ω
    32 210Ω 64 453Ω 96 976Ω

    Tabel 1 Tabel Nilai Resistansi EIA-96

    KodeFaktor PengaliKodeFaktor Pengali
    Z 0.001 C 100
    Y/R 0.01 D 10.00
    X/S 0.1 E 10.000
    A 1 F 100.000
    B/H 10    

    Tabel 2 Tabel Faktor Pengali EIA-96

    Contoh:

    1. 09A === 121 Ω x 1 = 121 Ω ± 1%
    2. 78C === 634 Ω x 100 = 63.400 Ω / 63.4 KΩ ± 1%
    3. 40Y === 255 Ω x 0.01 = 2.55 Ω ± 1%
    4. 17A === 147 Ω x 1 = 147 Ω ± 1%
    5. 30Z === 200 Ω x 0.001 = 0.2 Ω ± 1%

2. Kapasitor Keramik

Gambar 2.0 Sistem Pengkodean Empat Digit

Sebagian besar kapasitor keramik SMD yang beredar di pasaran umumnya tidak dilengkapi kode tercetak untuk menandakan nilai kapasitansinya. Namun terkadang ada beberapa produsen yang menyertakan kode tersebut pada permukaan atas komponen. Jika Anda menemukan kode tersebut, berikut cara membacanya.

KodeNilai (pF)KodeNilai (pF)KodeNilai (pF)
A 1.0 M 3.0 Y 8.2
B 1.1 N 3.3 Z 9.1
C 1.2 P 3.6 a 2.5
D 1.3 Q 3.9 b 3.5
E 1.5 R 4.3 d 4.0
F 1.6 S 4.7 e 4.5
G 1.8 T 5.1 f 5.0
H 2.0 U 5.6 m 6.0
J 2.2 V 6.2 n 7.0
K 2.4 W 6.8 t 8.0
L 2.7 X 7.5 y 9.0

Tabel 3 Kode Nilai Kapasitansi Kapasitor SMD

Contoh:

  1. E4 === 1.5 pF x 104 = 15.000 pF / 15 nF
  2. S2 === 4.7 pF x 102 = 470 pF
  3. R5 === 4.3 pF x 105 = 430.000 pF / 430 nF
  4. KG3 === 1.8 pF x 103 = 1.800 pF / 1.8 nF (diproduksi oleh pabrik berinisial “K”)
  5. AT1 === 5.1 pF x 101 = 51 pF (diproduksi oleh pabrik berinisial “A”)

3. Kapasitor Elektrolit

Gambar 3.0 Pengkodean Kapasitor Elektrolit

Secara umum nilai kapasitansi dari suatu kapasitor elektrolit dicetak dengan menggunakan kombinasi satu digit huruf dan tiga digit angka. Berikut cara membaca nilai kapasitansi dari kapasitor SMD.

KodeTeganganKodeTegangan
e 2.5 V D 20 V
G 4 V E 25 V
J 6.3 V V 35V
A 10 V H 50 V
C 16 V    

Tabel 4 Tabel Kode Tegangan Kapasitor Elektrolit

Contoh:

  1. E572 === 57 pF x 102 = 5.700 pF / 5.7 nF @ 25 V
  2. C475 === 47 pF x 105 = 4.700.000 pF / 4.7 µF @ 16 V
  3. H103 === 10 pF x 103 = 10.000 pF / 10 nF @ 50 V
  4. A204 === 20 pF x 104 = 200.000 pF / 200 nF
  5. D211 === 21 pF x 101 = 210 pF

4. Induktor

Untuk menandakan nilai induktansi, produsen biasanya mencetak tiga digit kode khusus pada permukaan atas induktor SMD. Berikut ini cara membaca kode pada induktor SMD.

Gambar 4.0 Pengkodean Induktor SMD

Contoh:

  1. 101 ===10 µH x 101 = 100 µH
  2. 465 === 46 µH x 105 = 4.600.000 µH / 4.6 H
  3. 273 === 27 µH x 106 = 27.000 µH / 27 mH
  4. 3R3 === 3.3 µH (huruf “R” menunjukkan letak poin desimal)
  5. 4R7 === 4.7 µH (huruf “R” menunjukkan letak poin desimal)

Nah.. Bagaimana teman-teman? Membaca nilai komponen SMD ternyata bukan suatu hal yang sulit bukan??

Jangan bosan-bosan belajar elektronika ya.. ^_^

Sampai jumpa di artikel berikutnya..